Cerita Birahi: Awal Kisah Perselingkuhanku

Sebuah kisah cerita birahi yang menceritakan kisah perjalan perselingkuhanku dengan pria lain, aku sangat menikmatinya namun tersimpan luka dibalik perjalanan tersebut. silahkan dibaca cerita birahi tersebut dibawah ini:


Cerita Birahi: Awal Kisah Perselingkuhanku

Koleksi Cerita Birahi | Kejadian ini kualami pada tahun 2015 ini. Ketika itu aku berumur 22 tahun. Namaku Rahma, dan pacarku, sebut saja namanya Iwan, adalah seorang karyawan di suatu perusahaan yang termasuk terkemuka di Jakarta. Seperti halnya orang-orang yang berkarir, Iwan pun jarang di rumah karena setiap hari berangkat pagi pulang malam dan terkadang ada tugas dinas sampai 3 hari. Sebagai pacar yang baik, aku selalu setia menunggunya. Tetapi namanya juga wanita, walau bagaimanapun juga butuh perhatian dan dimanjakan oleh Pacar.

Berhubung Pacarku sibuk, kebutuhan itu jarang kudapatkan, bahkan bisa dikatakan langka, walaupun dalam hal urusan ranjang tak ada masalah. Iwan tergolong perkasa di ranjang dan memang dialah lelaki pertama yang menikmati tubuhku. Kami melakukan hubungan suami istri paling tidak 2-3 kali seminggu dan biasanya Iwan tahan sampai 1 jam setiap ronde. Jika sedang tergesa-gesa paling cepat 30 menit ia bertahan, sementara aku termasuk wanita yang mudah sekali orgasme. Percaya atau tidak, dulu waktu pertama kali berhubungan seks, Iwan sampai heran kok aku orgasme berulang-ulang kali dan suatu saat dia manghitung orgasme ku ketika kami berdua bersetubuh hingga satu jam dan hasilnya memang membuat kami terkejut, karena dalam satu jam aku bisa sampai 30-40 kali orgasme.

Hal itu tak pernah kusadari sebelumnya dan sebenarnya aku bukanlah maniak seks, tapi hanya gampang orgasme saja dan tak lebih dari itu. Namun yang kubutuhkan lebih dari pada aktivitas ranjang. Walau sekedar tatapan mesra, aku ingin sekali merasakannya. Atau pujian pada masakan dan penampilanku. Seiring dengan berjalannya waktu, hal itu makin jarang kudapatkan. Meskipun kadang aku merasa tersiksa dengan keadaan itu, tapi tetap kujalani juga dengan hati ikhlas. Semua pekerjaan kuliah sudah selesai jam 10 pagi dan setelah itu biasanya aku pergi ke kampus untuk hanya ngerumpi. Kadang-kadang jalan bareng dengan teman- temanku ke mall untuk membeli kebutuhan sehari- hari ataupun untuk beli untuk baju dan kebutuhan pribadiku yang lain.

Karena seringnya ditinggal Pacar dan kebanyakan ngerumpi dengan teman-temanku di mall atau di cafe jadi banyak tahu tentang pengalaman mereka yang juga bernasib sama sepertiku, yaitu kesepian. Bahkan ada yang lebih parah dari aku. Dari situlah mereka terkadang berkenalan dengan pria-pria baik yang masih muda dan single maupun yang sudah sama-sama berkeluarga dan mapan. Aku tak begitu tertarik pada awalnya dengan cerita mereka, tapi karena selalu tergoda dengan sensasi selingkuh yang mereka ceritakan, aku jadi seperti penasaran.

Iseng-iseng aku minta nomer HP seorang pria yang juga sudah mapan yang kata teman- temanku berprofesi sebagai kontraktor. Menurut temanku, sebut saja namanya Shaza, yang memberiku nomor HP Tito, si kontraktor itu, Tito orangnya gagah, tinggi besar dan juga agak lebih tampan dari Pacarku. Bagiku masalah ketampanan tak terlalu kuhiraukan. Yang bikin aku penasaran adalah “burungnya” yang kata Shaza selalu bikin dia hampir mati lemas. Tanpa kusadari, aku memulai petualanganku dengan Tito. Dari hari ke hari sampai hampir satu bulan lamanya aku dan Tito saling berkirim SMS dan menelepon saat Iwan sedang ngantor atau dinas ke luar kota.

Suatu hari Iwan membawa kabar kalau dia akan pergi keluar kota selama 3 hari. Aku agak sedikit senang karena aku akan ketemuan dengan Tito untuk pertama kalinya. Memang selama kami saling kontak melalui HP sudah seperti orang pacaran karena begitu mesra. Bahkan kadang-kadang nyerempet ke masalah ranjang. Dari hubungan melalui HP tersebut aku menyimpulkan kalau Tito seorang yang humoris. Seperti malam-malam biasanya bila Pacar ingin berangkat ke luar kota akupun sudah memakai lingerie seksi di kamar untuk melayani Pacarku. Hanya saja, saat Iwan menyetubuhiku aku malah membayangkan sedang disetubuhi oleh Tito.

Jam sepuluh pagi ketika pekerjaan rumahku sudah beres aku berangkat ke depan kompleks perumahan dengan becak. Di sana sudah terparkir mobil Tito yang berwarna hitam seperti yang ia sebutkan dalam SMS-nya saat janjian untuk ketemuan denganku. Dengan hati berdebar-debar aku langsung membuka pintu belakang mobil. Di jok belakang kulihat Tito tersenyum menyambutku, sementara sopirnya duduk di belakang kemudi. Aku agak canggung ketika pertama kali bertemu dan tampaknya Tito juga begitu. Dari pandangan pertama aku nilai Tito lumayan ganteng. Ia pun pandai mencairkan suasana yang canggung jadi seperti sudah kenal lama.

Cerita Birahi | Di mobil aku sempat gelagapan saat Tito tanya kenapa aku tak mau dijemput di depan rumahku, karena dia pengen tahu di mana rumahku. Kubilang saja kalau aku tak mau tetangga curiga aku dijemput laki-laki tak dikenal yang datang ke rumah ketika Pacarku pergi. Mobil yang kami tumpangi berhenti di sebuah restoran. Memang tujuan kami ketemuan untuk pertama kalinya itu adalah makan siang berdua. Sambil makan kami ngobrol macam- macam. Tito sering melemparkan joke-joke segar dengan gaya jenaka, walaupun kadang bicaranya nyerempet-nyerempet masalah ranjang, sehingga membuat perutku sakit karena tertawa terus. Hal itu membuatku makin tertarik padanya dan tak kuasa menolak saat Tito mengajakku check in hotel di sekitaran Jakarta Barat.

Jangan tanya apa aku gugup atau apa, karena selama selesai dari makan siang hingga masuk kamar jantung berdetak dengan kencang seperti pertama kali aku ingin melakukan hubungan intim dengan Pacarku ketika pacaran dulu. Begitu masuk kamar, aku langsung ke toilet untuk buang air kecil. Di situ pikiranku kacau, apakah harus kulanjutkan atau tidak. Meskipun belum ngapa-ngapain, tapi aku sudah dihantui rasa bersalah pada Iwan. Rupanya rasa bersalah itu kalah oleh rasa kesepianku yang tiba- tiba terobati dengan adanya Tito. Aku bahkan mempersiap diri dengan memanfaatkan sabun khusus kewanitaan untuk mengharumkan sekaligus mengencangkan organ kewanitaan yang ada di wastafel. Ketika keluar dari toilet, Tito ganti yang masuk.

Kurebahkan tubuhku di ranjang dengan pikiran yang terus berkecamuk. Aku sedikit terhenyak saat melihatnya keluar dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Pakaian yang tadi dikenakannya ditenteng dan diletakkan di atas sofa hotel yang di atasnya ada jam besar. Kulihat sudah menunjukkan jam 1 siang.

Jantungku berdetak makin kencang saat Tito rebah di sebelahku dan langsung mengecupi leherku dengan lembut, seakan memancingku untuk relaks dan juga menikmati. “Jangan di cupang yah… Takut nanti Pacarku tau”, kataku. “Iya, sayang…”, jawabnya halus dan agak berbisik mesra. Tak hanya gampang orgasme, aku juga gampang terangsang. Ketika Tito mencumbuiku, aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang agak tebal dan terlihat seksi di mataku. Aku pun kemudian merasakan sensasi berciuman yang beda dengan Iwan.

Tito begitu pandai memainkan bibirnya dan lidahnya dalam rongga mulutku yang tak henti-hentinya mendesah akibat terbakar bara birahi. Dengan cekatan tangan Tito membuka satu-persatu kancing blouse yang kupakai hingga terlepas semua sambil terus melumat bibirku. Kubantu dia melepas kait bra-ku hingga aku telanjang dada. “Susumu bagus banget, lebih gede dari pacarku”, dengusnya. “Jangan gitu, dia kan pacarmu..”, kataku sambil menggelinjang dalam kenikmatan.

Tito tidak menjawab. Mulutnya beralih ke payudaraku dan menghisap- hisapnya dengan penuh gairah. Jelas saja hal itu makin membuatku terbuai dalam sebuah sensasi rangsangan yang meletup- letup. Sensasi selingkuh yang sudah sangat kunanti- nanti dan makin merasuk jauh dalam diriku, hingga aku tak sadar sudah telanjang bulat. Tahu-tahu Tito sudah berada di selangkanganku dan lidahnya terasa mencabik- cabik lembut Tempik-ku. Dalam waktu singkat aku orgasme dibuatnya, tapi Tito terus saja menjilati Tempik-ku, hingga aku orgasme lagi. Apalagi ketika jari-jari Tito mengocoki liang kemaluanku, aku malah lebih cepat orgasme lagi. “Kok kamu gampang banget dapetnya (orgasme)?”, tanya Tito. “Aku emang gampang dapet… Gak tau kok aku gampang banget dapetnya”, kujawab dengan nafas terengah-engah. Sesaat kemudian Tito membuka handuk penutup bagian bawah tubuhnya, lalu telentang di ranjang. Itulah untuk pertama kalinya aku melihat kontol yang bukan kontol Pacarku.

Kontol Tito memang agak lebih panjang dan besar dari Pacarku. Persis seperti yang diceritakan Shaza padaku. Bahkan Shaza bilang kalau dia sampai kelenger merasakannya. Melihat batang yang begitu keras, besar dan panjang membuatku makin mabuk kepayang. Kulumat kontol Tito dalam mulutku. Dengan kehalusan liukan lidahku di sepanjang batangnya membuat Tito menggeliat tak tahan. “Udah-udah…aku bisa keluar nanti”, katanya disertai erangan lirih. Sebetulnya aku masih ingin lebih lama melakukan oral padanya, seperti yang kulakukan pada Iwan, di mana mulutku sampai pegal sementara ia tenang- tenang saja, tapi dengan Tito malah ia ingin aku menyudahi.

Aku pun beringsut duduk di atas selangkangannya dan langsung mengarahkan kontolnya untuk kumasukkan ke dalam Tempik-ku yang sudah sangat basah. Rasanya memang berasa lebih sesak dan dalam sekali masuknya, tak seperti biasanya dengan kontol Pacarku. Aku memang menyukai posisi di atas karena dapat mengatur kenikmatan diriku sepuas- puasnya hingga aku kelelahan. Ketika kontolnya sudah masuk semua aku meluruskan pahaku agar Tempikku dapat mencengkram dengan lebih rapat. Iwan sangat menyukai saat aku melakukan itu. Setelah terasa rapat, aku mulai bergoyang. Memang apa yang dikatakan Shaza bukanlah bualannya saja, karena kontol Tito kurasakan lebih nikmat dan mengasyikkan. Bahkan aku hanya bergerak sebentar saja sudah orgasme.

Kugerakkan lagi beberapa genjotan hingga sesaat kemudian aku orgasme lagi. Jangan tanya reaksi Tito karena dia seperti orang kesurupan. Kedua tangannya memegangi dan meremas-remas pantatku, mengikuti setiap goyanganku. Aku terus bergoyang sampai berdesir lagi merasakan orgasme dan goyang lagi sampai dapat lagi. Perut dan paha Tito sampai basah hingga sprei ranjang hotel pun ikut basah.

Sensasi nikmat yang luar biasa itu membuatku terus goyang-goyang hingga orgasme entah yang ke berapa kali, sampai tangan Tito menepuki pantatku. “Yang, udah yang … Ganti posisi yuk?”, ajaknya sambil sedikit menyeringai, entah karena keenakan atau menahan ejakulasi. Aku yang memang sudah kelelahan beranjak dari atas tubuh Tito yang basah kuyup, lalu berbaring telentang di ranjang. Tito berlutut dan menyusupkan pahanya di selangkanganku. Saat aku mengangkang Tito menghunjamkan lagi kontolnya ke Tempik-ku dan mulai melakukan gerakan memompa yang membuat payudaraku berguncang- guncang.

Seperti halnya yang dilakukan Pacarku, Tito langsung menyergap kedua payudaraku dengan mulutnya sambil terus bergoyang. Sesaat kemudian Tito memintaku untuk merapatkan kedua payudaraku hingga kedua putingku saling menempel. Saat itulah Tito kembali melahap kedua putingku sekaligus sambil terus memompa batangnya. Nikmat ganda yang kurasakan membuatku cepat orgasme dan berulang- ulang. “Beb… Aku mau keluar nih … keluarin di mana?”, tanyanya dengan nafas memburu. “di dalem aja … Gak papa kok”, kataku dengan nafas tak kalah ngos-ngosan Tito semakin menggempur Tempik-ku dengan cepat yang tentunya membuatku orgasme lagi dan lagi. Sesaat kemudian terasa Tempik-ku dihujam sangat dalam dengan kontolnya yang diikuti dengan denyutan dan semburan cairan hangat yang keras dari kontolnya di ujung Tempik-ku. “Kamu nikmat banget, say.

Bahkan lebih nikmat dari pacarku sendiri. Kamu ganas …” kata Tito. “Hus… Pacar sendiri jangan dijelek-jelekin”, kataku sambil tersenyum. “Abis … kamu emang enak banget. Mana ganas pula…” katanya. Ronde pertama berakhir sudah. Kulihat jam dinding menunjukan waktu 1.30, berarti aku dan Tito sudah setengah jam bergumul. Sebenarnya Tito tak setangguh Pacarku, tapi karena kontolnya yang besar itu ternyata mampu membuatku merasa lebih nikmat walau hanya dengan durasi setengah jam.

Tito yang berusia sama denganku itu tampaknya ketagihan dengan layananku. Setengah jam kemudian ia mengajak bergumul lagi sampai- sampai ranjang basah kuyup oleh cairanku. Setelah Tito ejakulasi lagi, kami bercengkerama sebentar sambil tiduran telanjang.

Begitu deru nafas kami reda, kami pun check out. Tepat jam 4 sore Tito mengantarku sampai di depan kompleks peumahan tempat aku tinggal. Dengan becak aku menuju rumahku.Dirumah, aku selalu terngiang, apakah aku masih pantas untuk pacarku. Pertanyaan itu mengiang terus dalam hatiku tapi selama 3 hari itu. Anehnya aku tak mampu menolak ajakan Tito untuk mengulangi lagi di hotel yang sama dan ketika kembali ke rumah dihinggap rasa bersalah lagi. Apakah aku sudah terkena virus ketagihan selingkuh? Tak dapat kusangkal kalau rayuan dan keroyalan Tito selalu meluluhkan hatiku untuk dapat berdua dengannya di hotel.

Kadang dia membelikan baju seksi ketika dia mengajakku berbelanja di hotel. Pacarku tak curiga karena pikirnya itu dari gajinya yang memang lebih dari cukup untuk itu. Hubunganku dengan Tito sempat putus dan tak berselang lama aku memutuskan untuk mangakhirinya, karena ketika masa lost contact dengan Tito aku menemukan pria lain yang sedikit lebih gagah darinya. Meski begitu, cinta ini masih ada untuk Iwan, Pacarku, dan tak pernah tergantikan oleh siapapun. Hanya saja nikmatnya pergumulan di ranjang dan sensasi selingkuh itulah yang membuatku tergoda untuk mengulanginya lagi dan lagi.

Nikmatnya perselingkuhan dan rasa bersalah seolah seperti iblis dan malaikat yang terus bertarung dalam batinku. Dan entah kenapa, pada akhirnya malaikatlah yang menjadi pemenang, karena beban rasa bersalah yang kutanggung terasa makin berat dan menyesakkan dada. Aku bertekad untuk berhenti dari petualanganku mencari sensasi kenikmatan berselingkuh. Suatu malam, ketika aku dan Iwan sedang menikmati persetubuhan kami, kuberanikan diri untuk menceritakan perselingkuhanku dengan Tito sedetil yang kumampu.

Berat rasanya menanggung beban itu dalam hatiku dan lebih berat lagi aku ketika menceritakannya pada Iwan. Aku bisa mengerti perasaannya ketika ia terlihat marah yang ketika itu sedang di bawah dan sedang kugoyang kontolnya dengan Tempikku. Tak heran jika ketika selesai bercinta dia tak memelukku seperti biasanya dan mendiamkan aku hingga 3 hari. Aku bersimpuh di depan kakinya untuk meminta maaf. Tetapi Iwan dengan berat hati memaafkanku.

-THE END-

Tag : Cerita Pemerkosaan, Cerita Selingkuh, Cerita Pemaksaan

Komentar

Posting Komentar